Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sama sekali, tetapi tidak berlebihan dalam mengejar dunia dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup.

Dalam urusan dunia, seorang mukmin tidak perlu rakus. Namun dalam urusan akhirat, justru harus bersungguh-sungguh dan memiliki ambisi yang besar. Karena itu, meskipun usia sudah lanjut, semangat untuk belajar agama tidak boleh padam. Orang yang benar-benar mengejar akhirat akan terus belajar, dan terus memperbaiki amal.

Sebaliknya, ada orang yang di usia senja masih sibuk mengejar dunia. Masih ingin mengumpul-ngumpulkan harta, dan masih sibuk dengan ambisi dunia. Jika yang dikejar bukan untuk akhirat, maka wajar jika hati tidak pernah merasa tenang dan tidak pernah merasa bercukupan.

Sekali lagi, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total. Tetapi, sikap positif terhadap dunia. Dunia tidak ditinggalkan, melainkan dikendalikan. Prinsipnya adalah menyedikitkan keterikatan terhadap dunia. Jika dunia berlebihan, maka ia akan mengurangi perhatian terhadap akhirat.

Menyedikitkan dunia bukan berarti membuang harta secara sembarangan. Jika ada kelebihan, maka salurkan kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan, terutama mereka yang nsedang tertimpa musibah. Bagi seorang mukmin, harta yang didermakan di jalan kebaikan itulah tabungan untuk akhirat.

Dalam kehidupan, segala sesuatu harus proporsional. Amanah harus dijaga. Jika merasa tidak mampu menjaga amanah, maka sebaiknya dikurangi. Amanah dalam keluarga, amanah dalam harta, dan amanah dalam jabatan harus dijalani sesuai kemampuan. Jangan memaksakan diri memiliki sesuatu yang tidak sanggup dipertanggungjawabkan.

Keutamaan Orang Fakir— Orang yang hidup dalam kesempitan pun, di balik kefakiran dan kesulitan mereka, ada keutamaan dan kemuliaan di sisi Allah. Banyak umat terdahulu yang hidup sederhana, bahkan miskin, tetapi memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Dalam sabdanya Rasulullah menyatakan, orang fakir akan lebih dahulu masuk surga 500 tahun dibandingkan orang-orang kaya.

Dunia ini dilaknat oleh Allah. Dunia nilainya sangat kecil di sisi Allah. Perumpamaannya seperti seseorang yang mencelupkan jarum ke dalam air laut, lalu mengangkatnya. Air yang menempel di jarum itulah gambaran nilai dunia dibandingkan akhirat. Sangat sedikit dan tidak berarti.

Karena itu, jangan sampai hidup hanya dihabiskan untuk mengejar dunia. Makan, minum, berkendara,bekerja, dan mencari nafkah harus selalu diiringi dengan niat ibadah, niatkan untuk akhirat. Harta bukan untuk berfoya-foya, tetapi untuk menegakkan kebaikan.

Jika dunia di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, maka orang-orang kafir tidak akan diberi kenikmatan dunia walau seteguk air. Namun kenyataannya, mereka menikmati dunia. Ini menunjukkan bahwa dunia memang tidak bernilai di sisi Allah. Maka tidak pantas seorang mukmin mempertaruhkan akhirat demi dunia yang nilainya begitu kecil.

Orang beriman boleh menikmati dunia, tetapi tidak menjadikannya tujuan. Jika menikmati dunia tanpa iman, maka semuanya akan sirna tanpa nilai. Sebesar apa pun bantuan, sedekah, dan amal lahiriah, jika tidak dibangun di atas iman, maka tidak bernilai di sisi Allah.

Karena itu, rumah, harta, dan segala yang dimiliki harus diarahkan agar menjadi sarana ibadah. Aktivitas dunia harus selalu dikaitkan dengan nilai akhirat. Dengan begitu, dunia menjadi aman dan membawa rahmat, bukan menjadi sebab kebinasaan. Kehidupan yang penuh kehati-hatian dan niat yang benar akan menjadikan dunia sebagai ladang pahala.

Jangan terlalu sibuk mengumpulkan dan menumpuk barang yang tidak bermanfaat. Koleksi barang tanpa manfaat hanya akan memberatkan. Yang lebih utama adalah harta yang diputar dalam kebaikan, disalurkan dalam kegiatan sosial, dan dimanfaatkan untuk membantu sesama.

Kesederhanaan adalah jalan keselamatan. Rumah yang sederhana tetapi penuh ibadah lebih baik daripada bangunan megah yang melalaikan. Banyak orang membangun rumah berlebihan, padahal usia tidak lagi panjang. Yang paling penting bukan megahnya bangunan, tetapi kesiapan menghadapi akhir kehidupan. Dunia akan musnah, sedangkan akhirat kekal. 

Notulen: Hari Wahyudi