“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” Q.S. Ar-Rad: 28. Kalimat kunci ini disampaikan dalam Seminar Kesehatan Mental yang diselenggarakan Majelis Taklim Muslimah Al-Amin.  Melalui kegiatan seminar ini diharapkan peserta mendapatkan pengetahuan praktis tentang bagaimana kesehatan mental di tengah tantangan hidup modern, serta memperoleh motivasi spiritual untuk kembali menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber ketenangan jiwa.

Kegiatan yang diselenggarakan pada 22 November 2025 terwujud atas kerjasama dengan Rumah Qur’an Humaira. Seminar yang mengusung tema “Apakah Aku Baik-Baik Saja”  ini menghadirkan narasumber ibu Scientia Afifah, S.H., M.Si. Alumni Magister Kajian Islam dan Psikologi UI, Co-founder & CEO Lingkar Keluarga Matahati.

Kegiatan berjalan dengan lancar. Antusiasme peserta sangat tinggi. Acara dihadiri 250 orang muslimah dari Desa Bojongkulur dan sekitarnya bahkan hadir pula peserta terjauh yaitu dari Tambun, Bintara – Bekasi.  Acara berlangsung meriah. Disela-sela acara diberikan doorprize kepada peserta seminar, diakhiri foto dan makan siang bersama. Bersamaan dengan seminar dilangsungkan juga bazar makanan, minuman, dan pakaian oleh warga RW 32 Desa Bojongkulur yang dihadiri pula oleh Wardah Kosmetik serta Dan-Dan Kosmetik.

Dalam seminar narasumber menegaskan bahwa  kondisi jiwa manusia ini selaras dengan ajaran Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S. Ar-Rad ayat 28 yang artinya “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan jiwa merupakan salah satu nikmat Allah yang dapat diraih melalui kedekatan spiritual dengan-Nya. Terdapat hubungan antara iman dan kesehatan mental, dimana ketaatan kepada ajaran agama berperan besar dalam menciptakan emosi stabil.

Namun pada kenyataanya masyarakat saat ini menghadapi banyak tantangan yang mengganggu kesehatan mental seperti: tantangan ekonomi, persaingan sosial, dan dampak negatif dari media sosial.  Hal tersebut seringkali menimbulkan stres, kecemasan, bahkan depresi. Kondisi ini diperparah dengan adanya stigma bahwa masalah kesehatan mental dianggap sebagai tanda kelemahan, kurangnya iman, sehingga banyak orang memilih memendam perasaan dan enggan meminta pertolongan.

Lebih jauh Scientia menjelaskan. Ada 4 (empat) ciri-ciri individu yang sehat mentalnya, yaitu: 1) Mapan (sakinah), tenang, dan rileks (rahah), 2) Menerima keberadaan dirinya maupun orang lain, 3) Memiliki kemampuan untuk memikul tanggung jawab, berkorban, dan menebus kesalahan, 4) Adanya  rasa puas, kegembiraan (al-farh/al-surur), dan kebahagiaan dalam menyikapi nikmat. 

 Masalah kesehatan mental bersifat kompleks. Sumbernya bisa biologis (penyakit fisik, gangguan organik), psikologis (keluhan subjektif, adaptasi), sosial (kondisi finansial, lingkungan), dan spiritual. Pada isu spiritual, kesehatan mental mewujud dalam bentuk seperti: ibadah terasa hampa, merasa jauh dari Allah, terjebak pada kesalahan masa lalu, dan was-was terhadap ritual keagamaan.

 

Solusi dan Pentingnya Intervensi

 

Islam memberikan perhatian khusus pada “nafs” (jiwa) manusia. Dan kesehatan mental dipandang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.  Terdapat tiga kategori nafs berdasarkan Al-Qur’an, yaitu 1) Nafs al-ammarah (jiwa yang cenderung pada perbuatan buruk), 2) Nafs al-lawwamah (jiwa yang selalu ragu dan menyesali perbuatannya), dan 3) Nafs al-muthmainnah (jiwa yang lurus dan mendapat ilham dari Allah).

Untuk menjaga asupan jiwa, Islam menyediakan solusi penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Ada empat tahapan penyucian jiwa menurut Islam, yaitu: 1) Muraqabah (merasa diawasi oleh Allah), 2) Muhasabah (intropeksi diri), 3) Mujahadah (bersungguh-sungguh dalam perbaikan), serta 4) Tawakkal (berserah diri).

Ketika kita merasa memiliki gangguan kesehatan mental, kemana dan kapan waktunya mencari bantuan profesional? Ada dua alternatif jawaban. Pertama, ke psikolog. Jika gejala menunjukkan gangguan psikologis, seperti problema emosional atau kepribadian yang sudah tidak mampu diatasi oleh konselor pendamping. Atau Kedua ke psikiater. Jika gejala sudah berat dan menunjukkan gangguan psikiatri, seperti: halusinasi, keinginan bunuh diri, gangguan makan/tidur/atau gelisah.

Menjawab pertanyaan peserta, narasumber menegaskan bahwa penyembuhan kesehatan mental yang terbaik adalah melalui kombinasi penanganan profesional dan spiritual, karena kesehatan mental bukan sekadar soal pikiran, tetapi juga soal ruh. Stigma lingkungan (seperti: “Kamu stress? Kurang iman!”) lebih berbahaya daripada penyakitnya sendiri. Oleh sebab itu, penting adanya dukungan keluarga dan lingkungan untuk menormalisasi percakapan tentang kesehatan mental. Dan tujuan akhir dari seluruh perbincangan tentang kesehatan mental yaitu dalam rangka tercapainya Qalbun Salim (hati yang bersih, suci, lurus, dan selamat).  Semoga.

 

Penulis: Hendy (Ketua Majelis Taklim Muslimah Al-Amin)

Editor: Aris